SIARAN
PERS
Untuk siaran segera - 26 Juni 2007
Siaran pers bersama oleh EcoNexus, Biofuelwatch, Corporate
Europe Observatory
Kelompok-kelompok dari seluruh
dunia menyerukan moratorium atas insentif Uni Eropa bagi bahan bakar
nabati dari perkebunan monokultur berskala besar.
Pada tanggal 27 Juni 2007 lebih
dari 30 kelompok dari seluruh dunia menyerukan diterapkannya moratorium
untuk menghentikan gerak cepat Uni Eropa mempromosikan
bahan bakar nabati, yang lebih suka mereka sebut dengan bahan bakar
agro: bahan
bakar cair yang terbuat dari biomassa yang terdiri dari hasil-hasil
pertanian dan pohon-pohon yang ditanam secara khusus untuk tujuan
itu dalam skala besar. Mereka memperingatkan bahwa produksi bahan
bakar agro untuk pasar Uni Eropa akan mempercepat perubahan iklim,
merusak keanekaragaman hayati dan mencerabut komunitas lokal. Organisasi-organisasi
itu mengunjungi Brussel pada tanggal 26 dan 27 Juni untuk menyampaikan
keprihatinan mereka kepada Parlemen Eropa mengenai dampak bahan
bakar agro terhadap komunitas lokal, keanekaragaman hayati dan iklim.
Mereka menyangsikan kapasitas proyek-proyek sertifikasi yang sekarang
sedang dirancang di Uni Eropa untuk mencegahberbagai kerusakan
tersebut.
Pada bulan Maret 2007, para
Kepala Negara Uni Eropa memutuskan menyetujui target
10% bahan bakar agro pada tahun 2020. Komisi Eropa telah membuat
penegasan bahwa
mereka berharap sejumlah besar proporsi bahan bakar agro tersebut
dihasilkan dari minyak kelapa sawit, kedelai, dan gula tebu dari
negara-negara Selatan. Jika diproduksi total di Eropa akan membutuhkan
sampai 50% tanah pertanian di Uni Eropa . Target Uni Eropa 5.75%
pada tahun 2010 telah merangsang ekspansi perkebunan monokultur
dalam skala besar dan menyebabkan kerusakan hutan tropis dan sub
tropis, padang rumput, lahan gambut di Asia
Tenggara, dan di sejumlah besar komunitas. Target 10% telah mendorong
proyek-proyek besar infrastruktur dan produksi di wilayah Selatan,
dimana sebagian besar bahan untuk produksi bahan bakar agro akan
ditanam. Indonesia sendiri merencanakan pembukaan 20 juta hektar
lebih perkebunan kelapa sawit untuk memenuhi permintaan bahan bakar
agro di masa depan (tinyurl.com/33lb7r). Ekspansi ini akan mengorbankan
tanah-tanah milik masyarakat, lahan gambut, dan hutan.
Nina Holland dari Corporate
Europe Observatory menyatakan: “Para Kepala Negara
itu menegaskan bahwa bahan bakar agro yang berasal dari sumber yang
lestari seharusnya menjadi prakondisi untuk target-target itu. Tidak
ada usulan sama sekali mengenai jaminan kelestariannya. Komisi Eropa
mengusulkan `sejumlah standar' yang akan mengizinkan bahan bakar
nabati yang berasal dari perkebunan dimana masyarakatnya mengalami
pengusiran paksa untuk digolongkan sebagai 'lestari', dan sejumlah
standar itu tidak akan menyinggung kerusakan hutan hujan yang luar
biasa yang disebabkan oleh konversi perkebunan monokultur. Dalam
ketiadaan jaminan apapun akan sumber bahan bakar nabati yang
lestari kita perlu sebuah moratorium atas dukungan, insentif, dan
impor bahan bakar agro.”
Almuth Ernsting dari Biofuelwatch
menambahkan: “Jauh dari pengurangan emisi gas
rumah kaca, kebijakan bahan bakar nabati Eropa justru mengancam
terjadinya percepatan pemanasan global dengan rusaknya hutan tropis
dan sub tropis serta lahan gambut, yang merupakan tempat terpenting
di dunia untuk penyerapan karbondioksida (carbon sinks). Bahkan
di Eropa, sejumlah besar gas nitro-oksida (N20) terlepas di udara
karena lebih banyak pupuk yang digunakan dalam perkebunan pemasok
bahan bakar nabati, dan mengancam keberadaan keanekaragaman hayati
kita. Industri mobil Eropa telah menggunakan bahan bakar nabati
sebagai cara untuk menghindari standar efisiensi bahan bakar yang
ketat yang penting untuk pengurangan emisi karbon. Jika kita ingin
memiliki harapan untuk menghindari dampak buruk perubahan iklim
maka kita membutuhkan pengurangan drastis dalam penggunaan bahan
bakar di Eropa - bukan dengan menanam bebijian dan tanaman penghasil
minyak dalam perkebunan monokultur yang luas untuk konsumsi mobil-mobil
Eropa”.
Orin Langelle ko-direktur Global
Justice Ecology Project yang berkedudukan di AS menyatakan, “Keprihatinan
besar lainnya adalah perusahaan-perusahaan sedang merencanakan untuk
menggunakan pohon-pohon yang direkayasa secara genetis dalam
perkebunan monokultur skala besar untuk digunakan sebagai bahan
bakar agro, yang
akan lebih memperburuk krisis sosial dan ekologi yang sudah buruk
terkena dampak
perkebunan kayu monokultur skala besar. “Pohon-pohon
yang direkayasa secara genetis sebagai bahan bakar agro sedang dipromosikan
sebagai solusi atas pemanasan global; sebetulnya itu adalah solusi
yang salah dan keduanya akan memperburuk situasi. Bahan bakar agro
dan pohon-pohon itu akan menghasilkan jutaan dollar bagi perusahaan,”
Langelle
melanjutkan.
Ana Filippini dari World Rainforest
Movement menambahkan: “Kata `bahan bakar nabati' dan
`bahan bakar nabati generasi kedua' menempatkan kita jauh dari kenyataan
akan adanya proses-proses destruktif yang dihasilkan selama produksi
keduanya. Mereka menyembunyikan fakta bahwa bahan bakar nabati generasi
kedua atau bahan bakar agro itu akan diproduksi dari jenis perkebunan
pohon monokultur yang sama yang telah diuraikan di atas, tapi dengan
penambahan beberapa elemen baru yang berbahaya. Idenya adalah untuk
memproduksi etanol dari selulosa yang terkandung dalam kayu dari
perkebunan pohon tumbuh-cepat. Para peneliti telah memanipulasi
pohon-pohon secara genetis demi produksi
etanol, berusaha mencapai pertumbuhan yang cepat dan kandungan lignin
yang lebih rendah untuk memfasilitasi dan meningkatkan ekstraksi
dan produksi selulosa. Enzim-enzim juga dimanipulasi supaya selulosa
menjadi lebih cepat terurai menjadi etanol. Selain dampak yang mengancam
atas dimanipulasinya pohon-pohon dan enzim secara genetis, teknik-teknik
ini akan mengakibatkan ekspansi lebih jauh akan model perkebunan
pohon multikultur, yang
sekarang juga disediakan untuk produksi bahan bakar.
Helena Paul dari EcoNexus mengatakan,
“Bahan bakar agro sedang dipromosikan secara besar-besaran
oleh industri agribisnis, bioteknologi, bahan bakar fosil dan mobil.
Banyak orang di Parlemen Eropa dan Uni Eropa cukup menyadari hal
ini, akan tetapi mereka membiarkan proses promosi bahan bakar agro
yang terburu-buru ini. Kita perlu moratorium sekarang karena keputusan-keputusan
dengan dampak yang sangat serius sedang dibuat dengan terlalu cepat.
Kontak:
Almuth Ernsting, Biofuelwatch, 0044 -1224 324797 (pagi dan malam)
atau 0044 - 1224-553195 (siang) Deepak Rughani, Biofuelwatch, 0044-7931-636337
(setiap waktu)
Nina Holland, Corporate Europe Observatory, 0031-630285042 (setiap
waktu)
Helena Paul, EcoNexus: h.paul@econexus.info
Catatan:
1. Dokumen moratorium bisa didapatkan
di www.econexus.info. Penandatangan kali ini termasuk kelompok-kelompok
kunci dari seluruh dunia seperti GRAIN, Pesticide Action Network
Asia Pacific dan The Rural Reflection Group, Argentina, ditambah
kelompok-kelompok Eropa seperti Corner House, FERN dan Rettet den
Regenwald. Dokumen ini sekarang sedang disebarkan di seluruh dunia
untuk mendapatkan tanda tangan yang lebih banyak.
2. Ekspansi perkebunan monokultur
bahan bakar agro telah menyebabkan kerusakan
hutan di banyak negara di Asia, Amerika Latin dan Afrika. Permintaan
yang terus meningkatatas bahan bakar agro mendorong peningkatan
harga pasar dunia untuk tanaman seperti minyak kelapa sawit, kedelai,
gula tebu, jagung dan jatropha dan peningkatan harga itu memberi
insentif kepada perusahaan-perusahaan itu untuk memperluas perkebunan.
Penebangan hutan yang lebih banyak dapat membawa hutan Amazon ke
titik kritis, dengan dampak berat bagi wilayah-wilayah itu dan bagi
stabilitas curah hujan dan iklim global. Sebagaimana ditulis oleh
Peter Bunyard:
“Kesimpulannya,
semakin jelas bahwa kita mengacaukan iklim, bukan semata-mata karena
emisi gas rumah kaca akibat pembakaran bahan bakar fosil, tapi juga
karena ekosistem-ekosistem seperti di kawasan Lembah Amazon memainkan
peranan besar dalam pemindahan energi dari wilayah khatulistiwa
ke wilayah-wilayah yang beriklim empat musim (temperate) di planet
ini. Sistem iklim kita, dengan pola cuacanya yang khas, memerlukan
pemindahan energi itu. Konsekuensinya, kita harus melakukan segala
upaya untuk mencegah kerusakan lebih parah hutan hujan tropis Amazon
oleh perusahaan-perusahaan industri agro.”
Peter Bunyard. 2007. Climate
and the Amazon. Dalam: Surviving the Century: Facing Climate Chaos
and Other Global Challenges diedit oleh Herbie Girardet, Earthscan
3. Perkebunan monokultur, termasuk
bahan bakar agro, menyebabkan orang terdesak
keluar dari lahannya, sebagaimana pernyataan dari Paraguay ini:“…ekspansi
“gurun hijau” monokultur seperti dalam
produksi kedelai, jenis rerumputan asing dan pepohonan eksotik skala
besar, akan mendorong dan meningkatkan pertanian bermesin yang tidak
melibatkan petani-petani kecil, tanpa manusia. Semua perkebunan
monokultur akan merusak ekosistem setempat, menyebabkan kemiskinan,
pengangguran, serta pengusiran dan tercerabutnya masyarakat di daerah
pedesaan secara besar-besaran. Perkebunan monokultur
merusak keanekaragaman biologi dan pertanian, meracuni sumber-sumber
air dan tanah serta mengikis keamanan dan ketahanan pangan rakyat
dan negara-negara mereka.”
The Development Model for Soy
in Paraguay- Irresponsible, Unsustainable and Anti-Democratic, Asuncion,
August 2006, http://www.wervel.be/content/view/663/310/
4. Dampak monokultur kelapa
sawit terhadap komunitas lokal sudah sangat serius:
“Seolah-olah kita
ini hantu di tanah kita sendiri. Kita telah ditusuk-tusuk oleh duri-duri
kelapa sawit yang membuat kita hampir mati, menghantui apa yang
dulu menjadi tanah kita. Kita tidak biasanya mengatakan ini, tetapi
inilah yang sebenarnya terjadi. Kita perlu membela diri kita sendiri
dan menjelaskan bagaimana kelapa sawit menyakiti kita.
Lokakarya peserta RSPO Smallholder
Taskforce, Bodok, Sanggau, Kalimantan Barat,
7 Juni 2006; Ghosts on Our Own Land oleh Forest Peoples Programme
dan Sawit Watch,
http://www.forestpeoples.org/documents/prv_sector/
oil_palm/oil_palm_press_rel_indonesia_nov06_eng.shtml
5. Duapuluh sembilan organisasi
Afrika Selatan menanggapi Rancangan Strategi
Industri Bahan Bakar Nabati dengan mengatakan: “Perjanjian-perjanjian
telah dibuat bagi perkebunan skala besar untuk mengekspor bahan
bakar nabati ke Uni Eropa. Dalam proses itu komunitas-komunitas
di pedesaan dipaksa menyerahkan tanah mereka bagi perkebunan industri
kanola, jagung dan kedelai.”
Komunitas-komunitas pedesaan
mengungkapkan kecemasan mereka atas perampasan tanah yang dipicu
oleh Strategi Bahan Bakar Nabati, Maret 2007, ditandatangani oleh
29 organisasi Afrika Selatan, lihat http://www.stuffedandstarved.org/drupal/node/145