Dukung perempuan di Kamerun yang menolak perkebunan kelapa sawit!

Pada tanggal 25 November, bertepatan dengan Hari Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan Internasional, Asosiasi Perempuan Kawasan  SOCAPALM Edéa (AFRISE) meluncurkan petisi ini untuk MENGHENTIKAN penanaman kembali kelapa sawit monokultur di sekitar rumah dan ruang-ruang  vital mereka.

Baca petisi di bawah ini dan TANDATANGANI DI SINI

Dukung perjuangan perempuan untuk tanah dan kehidupan!

 

Petisi menentang penanaman kembali kelapa sawit oleh Socapalm (Socfin/ Bolloré) di sekitar rumah warga dan makam di kawasan pedesaan tetangga Apouh à Ngog, di Edea-Kamerun

Hentikan penanaman kembali kelapa sawit di sekitar rumah dan makam leluhur masyarakat Apouh, yang tinggal di kawasan Socapalm, milik Socfin/Bolloré di Edea

SOCAPALM terus melakukan penanaman kembali kelapa sawit di sekitar rumah dan kuburan leluhur milik warga di desa Apouh à Ngog, di distrik Edea 1, Departemen Maritim Sanaga, wilayah Littoral, Kamerun. Jika hal ini tidak dihentikan, kami, para perempuan yang tinggal di dekat Socapalm di Edéa, harus menanggung penderitaan, pelecehan, pemerkosaan, pencurian, kelaparan, frustrasi dan pelanggaran terhadap hak-hak kami, privasi kami dan martabat kami, yang mengarah pada kehancuran selama 50 tahun lagi. Sebuah kehidupan yang sangat menyakitkan, tidak adil, menyedihkan dan tidak tertahankan bagi seluruh komunitas kami.

The Société Camerounaise de Palmeraies (SOCAPALM) adalah anak perusahaan dari Grup SOCFIN global, yang sebagian dimiliki oleh Bolloré. Perusaahn ini telah mengeksploitasi pohon kelapa sawit di sekitar rumah kami dan di kuburan nenek moyang kami selama lebih dari 50 tahun. Karena pohon-pohon tersebut kini sudah tua, perusahaan sedang dalam proses menggantinya dengan menanam kembali lahan kelapa sawit berhektar-hektar di belakang rumah kami dan di kuburan leluhur kami. Perlu kami sampaikan bahwa masyarakat Apouh sangat mengandalkan pemulihan tanah ini, yang dianggap sebagai ‘ruang vital’, untuk mendapatkan manfaat dari sumber daya alam yang diperlukan untuk dinamika pembangunan berkelanjutan dan untuk membawa perdamaian, kesejahteraan dan ketenangan di desa tersebut.

Pasal 6 ayat h dari sewa jangka panjang yang diberikan kepada SOCAPALM, tentang “kewajiban penerima pengalihan”, menetapkan bahwa penanaman kembali tidak boleh dilakukan di area seluas 250 ha yang terletak di sekitar masyarakat desa sebelum pemerintah daerah terlebih dahulu memperhitungkan setiap bidang tanah yang didistribusikan sebagai ruang vital warga.

Sampai saat ini, SOCAPALM telah menghentikan semua negosiasi dengan penduduk setempat dan terus melakukan penanaman kembali di bawah pengawasan pemerintah setempat. Kami para perempuan yang tergabung dalam Asosiasi Perempuan Kawasan SOCAPALM Edéa (AFRISE) bahkan telah menulis surat kepada Presiden Republik Kamerun, namun kami masih menunggu balasannya. Bahkan, kepala desa kami ditahan secara administratif di penjara pusat di Edéa, karena  perselisihan SOCAPALM dan Prefek SANAGA MARITIME, dan karena beliau membela kepentingan rakyat. Saat ini Kepala desa kami masih diadili oleh SOCAPALM karena alasan yang sama.

Penting untuk dicatat bahwa SOCAPALM, yang mengambil alih perkebunan ini pada tahun 2000, mempunyai konsesi semu yang ilegal dan serta sertifikat tanah yang meragukan, dengan status disengketakan, dan dapat disengketakan. Seluruh tanah kami telah diambil alih dan hutan kami telah dirusak. Udara, sungai, dan sungai kami tercemar. Singkatnya, semua sumber daya vital kami di ambil paksa, tanpa kompensasi apa pun.

Sejak SOCAPALM mengambil alih perkebunan, kami dan keluarga bertahan hidup dengan mencuri biji-biji sawit yang jatuh setelah dipotong. Kami sering kali dihadapkan pada bahaya karena harus keluar pada malam hari untuk mencuri biji-biji sawit tersebut, tidak lupa bahwa ancaman penjara yang ada di depan mata jika tertangkap.

Parahnya lagi, untuk memasuki perkebunan, kami harus menyerahkan tubuh kami kepada penjaga. 90% dari kami menyerahkan tubuh kami kepada penjaga untuk mendapatkan akses ke perkebunan. Anak-anak kami tidak direkrut oleh perusahaan dan akhirnya menggunakan narkoba, melakukan aktivitas ilegal atau menempuh jalur imigrasi ilegal hingga mati di laut. Kami dibiarkan berjuang sendiri dalam sistem rentan korupsi.

Kami, para perempuan AFRISE, tidak mau lagi menerima 50 tahun ke depan dalam kesengsaraan ini. Kami bertekad berjuang untuk membebaskan tanah kami dan mendapatkan ruang vital bagi anak-anak kami di generasi sekarang dan masa depan.

Kami mencari segala bentuk dukungan untuk memungkinkan kami memulihkan tanah, hutan, air, HIDUP kami, yang dicuri oleh SOCAPALM.

Tanda tangan Anda sangat berarti. Bantu kami meminta Negara Kamerun dan Socapalm untuk mengembalikan tanah kami, membuat penyandang dana dan perusahaan asuransi dari perusahaan SOCAPALM menuntut agar perusahaan ini memberikan kami ruang hidup yang luas dan leluasa. Bantu kami menuntut agar HAK HIDUP KAMI dipulihkan.

25 November 2023